Pamekasan, 31 Mei 2025 — Penguatan karakter santri terus menjadi perhatian penting di lingkungan pesantren, terutama dalam membangun akhlak mulia dan etika belajar yang kuat. Salah satu upaya konkret dilakukan oleh Mabrurrosi, Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Arab STAI Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan, yang mempublikasikan hasil pengabdian masyarakatnya di Al-Ridha: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, Volume 3, Nomor 1, halaman 1-11.
Penelitian pengabdian yang berjudul "Penguatan Karakter Santriwati Berbasis Nilai-Nilai Adabul 'Alim wa al-Muta'allim di Pondok Pesantren Al-Mujtama'" ini berfokus pada internalisasi nilai-nilai etika belajar dan berinteraksi yang bersumber dari kitab Adabul 'Alim wa al-Muta'allim, karya klasik yang dikenal luas dalam dunia pesantren.
Melalui rangkaian kegiatan intensif selama 12 hari, para santriwati diberikan materi, diskusi, simulasi, serta evaluasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan akhlak dalam proses belajar mengajar serta interaksi sosial sehari-hari.
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman etika keagamaan dan perilaku positif di kalangan peserta. “Penguatan karakter tidak hanya berbicara tentang teori, tapi harus ditanamkan melalui praktik langsung yang relevan dengan kehidupan santri,” jelas Mabrurrosi.
Program ini dinilai efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendorong partisipasi aktif santriwati dalam kegiatan pendidikan di pesantren. Selain itu, kegiatan ini memberikan dampak pada peningkatan kesadaran santriwati akan pentingnya etika belajar, sikap hormat kepada guru, serta tata krama dalam pergaulan.
Sebagai tindak lanjut, Mabrurrosi merekomendasikan agar metode pembelajaran interaktif seperti diskusi dan simulasi terus dilanjutkan, disediakan sumber belajar tambahan, serta dilakukan evaluasi berkala guna memastikan keberlanjutan penguatan karakter santri.
Program ini sekaligus menunjukkan komitmen STAI Darul Ulum Banyuanyar dalam membangun generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam akhlak dan etika keilmuan, sesuai dengan tradisi luhur pesantren.
Selasa, 01 Juli 2025
Dosen STAI Darul Ulum Banyuanyar Kembangkan Bahan Ajar Bahasa Arab Tematik Fikih al-Dayn untuk Tingkatkan Keterampilan Berbicara Mahasiswa
Pamekasan, 16 Juni 2025 — Upaya peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Arab di lingkungan pendidikan tinggi Islam terus digencarkan. Salah satu terobosan terbaru datang dari Mabrurrosi, Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STAI Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan, yang berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di Al-Wazan: Journal of Arabic Education, Volume 3, Nomor 1, halaman 102-120.
Penelitian yang berjudul "Berbicara dalam Bingkai Fikih: Desain Materi Tematik al-Dayn untuk Keterampilan Kalam" ini berfokus pada pengembangan bahan ajar keterampilan berbicara (maharah al-kalam) berbahasa Arab yang terintegrasi dengan tema fikih, khususnya fikih al-dayn (utang piutang). Tema ini dinilai memiliki relevansi tinggi dengan realitas sosial dan ekonomi mahasiswa, namun selama ini jarang diangkat dalam pembelajaran bahasa Arab.
“Masih terbatas bahan ajar yang kontekstual, tematik, dan mengintegrasikan unsur keilmuan Islam, terutama di bidang fikih. Padahal, penguasaan bahasa Arab dan pengetahuan keislaman harus berjalan seiring,” ungkap Mabrurrosi.
Dalam penelitiannya, Mabrurrosi menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Tahapan tersebut mencakup analisis kebutuhan mahasiswa, perancangan materi tematik, pengembangan bahan ajar, implementasi di kelas, serta evaluasi efektivitasnya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan berbicara mahasiswa setelah penerapan bahan ajar tersebut, terlihat dari perbandingan skor pre-test dan post-test. Meski sebagian mahasiswa masih memerlukan pendampingan tambahan, mayoritas mengalami kemajuan yang berarti dalam keterampilan berbicara mereka.
Kontribusi penting dari penelitian ini tidak hanya terletak pada inovasi pengembangan bahan ajar Bahasa Arab, tetapi juga dalam memperkuat integrasi antara pengajaran bahasa dan konten fikih dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kompetensi linguistik dan religius mahasiswa secara holistik dan relevan.
Penelitian ini menjadi langkah nyata STAI Darul Ulum Banyuanyar dalam mencetak lulusan yang tidak hanya fasih berbahasa Arab, tetapi juga memahami kandungan keilmuan Islam yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Rabu, 18 Desember 2024
Seminar Hari Bahasa Arab Sedunia: Kontribusi Bahasa Arab dalam Peradaban dan Kebudayaan Manusia
Pada tanggal 18 Desember 2024, Platform Ilmiah "Arid" menyelenggarakan seminar bertajuk "Kontribusi Bahasa Arab dalam Peradaban dan Kebudayaan Manusia". Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam peran penting bahasa Arab dalam sejarah peradaban serta relevansinya di era modern.
Seminar ini dihadiri oleh para ilmuwan, pakar, dan peneliti berbahasa Arab dari berbagai bidang. Salah satu peserta yang berpartisipasi adalah Mabrurrosi, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di STAI Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan.
Sebagai pengakuan atas partisipasinya, Mabrurrosi, M.Pd. menerima sertifikat dengan Nomor ard-182143 dari Platform Ilmiah "Arid". Kehadiran beliau menunjukkan komitmen para akademisi lokal dalam berkontribusi pada diskusi global mengenai bahasa Arab dan peran vitalnya dalam peradaban manusia.
Seminar ini merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya akan sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Selasa, 17 Desember 2024
Dosen PBA STAI DUBA Menjadi Juri Debat Bahasa Arab Nasional di IAIN Madura
Madura, 17 Desember 2024 – Dua dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dari Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar (STAI DUBA), yaitu Mabrurrosi, M.Pd. dan Rousul Firdaus, M.Pd., mendapatkan rekognisi nasional dengan menjadi juri dalam ajang bergengsi Debat Bahasa Arab Nasional. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Mahrajan Al-Fann Al-Arabiy (MFA) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (HMPS PBA) IAIN Madura.
Dengan tema “Menghidupkan kecintaan terhadap bahasa Arab melalui diplomasi seni budaya dan pendidikan Islam”, kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 17 Desember 2024, di kampus IAIN Madura ini menjadi wadah bagi para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Arab mereka.
Kehadiran Mabrurrosi dan Rousul Firdaus sebagai juri tidak hanya menunjukkan pengakuan atas kompetensi mereka di bidang pendidikan bahasa Arab, tetapi juga menjadi wujud nyata kiprah dosen STAI DUBA di tingkat nasional. Ketua panitia menyampaikan apresiasinya, “Kami berterima kasih atas kehadiran para dosen dari STAI DUBA sebagai juri. Hal ini memberikan motivasi lebih kepada para peserta untuk tampil maksimal.”
Sebagai juri, Mabrurrosi dan Rousul Firdaus menilai peserta berdasarkan kefasihan berbahasa Arab, kekuatan argumen, serta kemampuan mengintegrasikan unsur seni, budaya, dan pendidikan Islam dalam debat.
Rekognisi ini menjadi kebanggaan bagi STAI DUBA, sekaligus menunjukkan kontribusi institusi tersebut dalam memajukan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Diharapkan prestasi ini dapat menginspirasi mahasiswa dan dosen lainnya untuk terus mengembangkan keilmuan dan kemampuan di berbagai forum akademik, baik nasional maupun internasional.
Minggu, 01 Desember 2024
Mabrurrosi Raih Sertifikat ARID atas Partisipasi di Acara Ilmiah
Mabrurrosi, M.Pd dosen PBA STAI Darul Ulum Banyuanyar, baru-baru ini dianugerahi sertifikat dari Platform Ilmiah ARID, yang didedikasikan untuk ilmuwan, ahli, dan peneliti berbahasa Arab. Penghargaan ini diberikan atas partisipasinya dalam acara bertajuk "Hari Pria Internasional", yang merupakan salah satu inisiatif ilmiah yang diselenggarakan untuk merayakan kontribusi pria dalam berbagai aspek kehidupan.
Sertifikat dengan nomor arid-179819 ini dikeluarkan pada 21 November 2024, sebagai bentuk apresiasi terhadap keterlibatan aktif Mabrur Al-Razi dalam acara tersebut. ARID, yang dikenal sebagai platform terkemuka, memberikan ruang bagi para ilmuwan dan peneliti berbahasa Arab untuk berbagi wawasan dan memperluas jejaring akademik mereka.
Informasi lebih lanjut mengenai sertifikat ini dapat diakses melalui tautan resmi: [cert.arid.my/179819](https://cert.arid.my/179819).
Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi para akademisi lain untuk terus aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah, khususnya yang melibatkan komunitas berbahasa Arab di tingkat global.
Sabtu, 30 November 2024
Dosen PBA Menjadi Pembicara di The 5th International Conference on Islamic Studies (ICoIS) 2024
Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA),Mabrurrosi, M.Pd, mendapatkan kehormatan menjadi pembicara dalam The 5th International Conference on Islamic Studies (ICoIS) 2024. Acara ini mengangkat tema “Navigating Faith: Islam's Role in Global Social Movements” dan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada tanggal 2 November 2024.
Konferensi ini merupakan hasil kolaborasi antara
Khatam Al-Morsaleen International University, Egypt, organisasi Share to Care Volunteer, dan beberapa universitas lainnya. Acara tersebut mempertemukan para akademisi, peneliti, dan aktivis dari berbagai negara untuk membahas peran Islam dalam mendukung gerakan sosial global yang inklusif dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam sesinya, Mabrurrosi, M.Pd memaparkan pentingnya bahasa Arab sebagai alat strategis dalam menyebarkan ide-ide Islam yang dapat mendorong gerakan sosial global. Ia juga menyoroti relevansi pendidikan bahasa Arab dalam membangun pemahaman lintas budaya di tengah tantangan globalisasi.
“Bahasa Arab memiliki peran sentral dalam memperkuat komunikasi antarumat Islam di dunia. Hal ini menjadi kunci dalam membangun gerakan sosial berbasis nilai-nilai Islam yang damai dan berkeadilan,” ujar Mabrurrosi, M.Pd.
Keikutsertaan beliau dalam konferensi ini mencerminkan kontribusi Prodi PBA dalam mendukung kajian keislaman di tingkat internasional. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai institusi internasional ini juga membuka peluang untuk mempererat hubungan akademik global, sekaligus memperluas cakrawala mahasiswa dan dosen PBA di bidang pendidikan dan dakwah Islam.
Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan wawasan keislaman global dan memperkuat peran pendidikan bahasa Arab dalam mendukung gerakan sosial Islam di dunia.
Selasa, 16 Juni 2015
Materi Doa Bulan Ramadhan 1436 H
نداء صلاة التراويح
1.
صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ صَلاَةً جَامِعَةً أَثَابَكُمُ
الله/ آجَرَكُمُ الله
2.
اْلبَدْرُ نَبِيُّكُمْ مُحَمَّدٌ صَلُّوْا عَلَيْهِ
3.
فَضْلاً مِنَ الله تَعَالَى وَنِعْمَةْ
4.
خَلِيْفَةُ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّمَ
سَيِّدُنَا أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ
5.
فَضْلاً مِنَ الله تَعَالَى وَنِعْمَةْ
6.
خَلِيْفَةُ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّمَ
سَيِّدُنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ
7.
فَضْلاً مِنَ الله تَعَالَى وَنِعْمَةْ
8.
خَلِيْفَةُ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّمَ
سَيِّدُنَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانِ
9.
فَضْلاً مِنَ الله تَعَالَى وَنِعْمَةْ
10.
خَلِيْفَةُ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّمَ
سَيِّدُنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ
نداء صلاة الوتر
1. الصَّلاَةُ
سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ مِنَ الْوِتْرِ آجَرَكُمُ الله/ أَثَابَكُمُ الله
2. أَوْتِرُوْا
وَمَجِدُوْا (وَاقْنُتُوْا) مِنْ شَهْرِ الصِّيَامِ آجَرَكُمُ الله/ أَثَابَكُمُ
الله
نية الصوم
نَوَيْتُ
صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا للهِ
تَعَالىَ.
الدعاء
قبل الإفطار
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ
الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. يَا عَظِيْمُ يَا عَظِيْمُ، أَنْتَ إِلَهِيْ لاَ إِلَهَ
غَيْرَكَ، اِغْفِرْلِيْ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ
الْعَظِيْمَ إِلاَّ الْعَظِيْمُ.
الدعاء
عند الإفطار
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ
وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَرَحْمَتُكَ
رَجَوْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ
اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله.
دعاء صلاة التراويح
أَللّهُمَّ
اجْعَلْنَا بِاْلإِيْمَانِ كَامِلِيْن. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْن. وَلِلصَّلاَةِ
حَافِظِيْن. وِلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْن. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْن. وَلِعَفْوِكَ
رَاجِيْن. وَبِالْهُدى مُتَمَسِّكِيْن. وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْن. وَفِي الدُّنْيَا
زَاهِدِيْن. وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْن. وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْن. وَلِلنَّعْمَاءِ
شَاكِرِيْن. وَعَلىَ الْبَلاَءِ صَابِرِيْن. وَتَحْتَ لِوَاءِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْن. وَإِلَى الْحَوْضِ
وَارِدِيْن. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْن. وَمِنَ النَّارِنَاجِيْن. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ
قَاعِدِيْن. وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْن. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
وَّدِيْبَاجٍ مُّتَلَبِّسِيْن. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْن. وَمِنْ لَبَنٍ
وَّعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْن. بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْن.
مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِيْن. وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. ذَالِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفى
بِاللهِ عَلِيْمًا.أَللّهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ لَيْلَةِ هذَاالشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ
مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْن. وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْن.
وَصَلَى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ
يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
دعاء صلاة الوتر
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ ءَالِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا شَهْرَ
الصِّيَامِ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا شَهْرَ الْقُرْءَانِ، وَتَقَبَّلْ
مِنَّا اْلإِحْسَانَ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وُضُوْءَنَا وَصَلاَتَنَا
وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَشَهُّدَنَا
وَتَسْبِيْحَنَا وَتَحْمِيْدَناَ وَتَكْبِيْرَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَخَشُّعَنَا
وَتَضَرُّعَنَا وَلاَ تَضْرِبْ بِهَا وُجُوْهَنَا يَا اللهُ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ
وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Kamis, 28 Mei 2015
Doa dan Cita-Citaku
Hanya sekedar menjawab pertanyaan di kolom status fb ini;
- Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang bisa menjadi benteng kehidupan dunia-akhiratku.
- Aku ingin beramal shaleh, berkarya dan menghiasi dunia ilmiahku hingga aku benar-benar siap menuju akhiratku.
- Aku tahu, yang Abadi hanyalah Allah swt, maka aku akan torehkan tinta penaku agar kelak menjadi saksi kehdidupanku.
- Aku ingin menjadi anak shaleh; ubudiyah-amaliyah.
- Aku ingin menjadi anak shaleh; bermanfaat untuk diri sendiri dan berpengaruh baik bagi orang lain.
- Inilah doaku ...
- Istajib dua'i ya Rabb ... Amin ....
#cita-cita ...
PP. Kanzun Najah Batu Malang
Malam Jumat, 28 Mei 2015
- Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang bisa menjadi benteng kehidupan dunia-akhiratku.
- Aku ingin beramal shaleh, berkarya dan menghiasi dunia ilmiahku hingga aku benar-benar siap menuju akhiratku.
- Aku tahu, yang Abadi hanyalah Allah swt, maka aku akan torehkan tinta penaku agar kelak menjadi saksi kehdidupanku.
- Aku ingin menjadi anak shaleh; ubudiyah-amaliyah.
- Aku ingin menjadi anak shaleh; bermanfaat untuk diri sendiri dan berpengaruh baik bagi orang lain.
- Inilah doaku ...
- Istajib dua'i ya Rabb ... Amin ....
#cita-cita ...
PP. Kanzun Najah Batu Malang
Malam Jumat, 28 Mei 2015
Jumat, 20 Maret 2015
MABRURROSI: Cinta dalam Perspektif
MABRURROSI: Cinta dalam Perspektif: Cinta, Se buah kata yang terangkai dari lima huruf bermakna bagi setiap pemiliknya. C adalah cantik, orang yang sedang dilanda cinta a...
MABRURROSI: REFLEKSI BALI 2015
MABRURROSI: REFLEKSI BALI 2015: Denpasar, 06 Januari 2015 BALI. Tidak hanya sekedar sebuah nama pulau, lebih dari itu Bali dikenal juga dengan sebutan Pulau Dewata atau...
Sabtu, 01 November 2014
MUSUH AGAMA
MUSUH AGAMA-AGAMA
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti INSISTS)
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti INSISTS)
Dengan tanpa rasa sungkan dan
kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua
agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar
kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua
agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan
menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.
Begitulah salah satu pernyataan tegas seorang pendukung paham Pluralisme Agama di Indonesia, seperti ia tulis dalam artikel di satu koran nasional. Pandangan semacam ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Klaim kebenaran agama bagi pemeluk masing-masing, dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Seolah-olah, kerukunan umat beragama harus dibangun di atas landasan teologi pluralis yang melarang setiap pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Maka, betapa tesengatnya pendukung Pluralisme Agama di Indonesia, ketika pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama dan menyatakan sesat sejumlah aliran keagamaan. Karena itu, bisa dipahami, jika dalam berbagai seminar dan kesempatan, MUI menjadi bahan caci-maki. Banyak yang kelabakan. Bahkan ada yang kalap. Sebuah Jurnal yang diterbitkan di sebuah kampus Islam di Semarang pada edisi 28 Th XIII/2005, memuat laporan utama berjudul Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan. Dalam jurnal ini, misalnya, diturunkan wawancara dengan seorang aktivis HAM dengan judul MUI bisa Dijerat KUHP Provokator. Ia membuat usulan untuk MUI: Jebloskan penjara saja dengan jeratan pasal 55 provokator, jelas hukumannya sampai 5 tahun.
Amerika Serikat juga sangat getal mengucurkan dana untuk penyebaran paham Pluralisme, sehingga banyak yang menyambut dengan gegap gempita. Dalam situsnya, (http://www.usembassyjakarta.org/bhs/Laporan/indonesia_Laporan_deplu-AS.html), ditulis: Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga-minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan.
Pluralisme Agama sebagaimana yang banyak ditulis oleh para penganut dan penyebarnya -- memang bukan sekedar konsep toleransi, saling menghormati antar pemeluk agama, tanpa mengganggu konsep-konsep khas dalam teologi masing-masing agama. Menafsirkan QS al-Baqarah:62, sebuah disertasi doktor Ilmu Tafsir di UIN Jakarta menulis: Jika diperhatikan secara seksama, jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti pernyataan eksplisit ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dengan keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan al-Quran.
Pandangan dan penafsiran semacam ini tentu saja sangat keliru dan sama sekali tidak berangkat dari posisi teologis Islam. Ribuan mufassir al-Quran yang mutabarah sejak dahulu kala tidak ada yang memahami ayat al-Quran tersebut seperti itu. Sebab, dengan logika sederhana pun kita bisa memahami, bahwa untuk dapat "beriman kepada Allah" dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; dapat mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Ini konsepsi teologis Islam.
Kaum Pluralis kadangkala memandang aspek keimanan ini sebagai hal yang kecil. Kata mereka, yang penting adalah nilai kemanusiaan. Manusia harus saling mengasihi, tanpa melihat agamanya apa; tanpa melihat jenis imannya. Tentu saja pandangan ini juga sangat keliru. Sebab, dalam kehidupan manusia pun, aspek pengakuan juga sangat penting. Anak menuntut pengakuan dari orang tuanya. Sebelum bekerja, Presiden juga perlu pengakuan dari rakyat bahwa dia adalah Presiden. Anak yang tidak mau mengakui orang tuanya disebut anak durhaka. Maka, pengakuan (syahadah) itulah yang diminta oleh Allah kepada umat manusia. Yakni, agar manusia mengakui bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; dan bahwa Muhammad saw adalah utusan-Nya yang terakhir. Apa beratnya manusia untuk mau membuat pengakuan semacam ini?
Ada yang bilang, bahwa soal iman kepada kenabian Muhammad saw itu adalah soal kecil saja; masalah yang tidak penting; jadi tidak usah dibesar-besarkan; yang penting adalah kehidupan yang harmonis dan hormat-menghormati antar sesama manusia. Coba tanyakan kepada kaum yang mengaku Pluralis itu, jika iman kepada Nabi Muhammad saw adalah soal kecil, mengapa banyak yang keberatan untuk mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi. Mengapa? Jika itu dianggap masalah kecil, mengapa hanya untuk soal yang kecil saja, mereka tidak mau iman? Jadi jelas, bagi kaum Muslim, ini bukan soal kecil.
Bukan hanya kaum Muslim yang memandang Pluralisme Agama sebagai ancaman serius. Tahun 2000, Vatikan juga mengeluarkan Dekrit Dominus Iesus yang menolak paham Pluralisme Agama. Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya, Dupuis menyatakan, bahwa kebenaran penuh (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan sebagaimana Kristen menuju kebenaran penuh tersebut. Semua agama disatukan dalam kerendahan hati karena kekurangan bersama dalam meraih kebenaran penuh tersebut.
Buku Toward a Christian theology of Religious Pluralism pada intinya menyatakan, bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Penganut agama lain juga akan mengalami keselamatan, tanpa melalui Yesus. Karena ajarannya itulah, pada Oktober 1988 ia mendapat notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman. Ia dinyatakan tidak bisa dipandang sebagai seorang teolog Katolik. Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger, yang kini menjadi Paus Benediktus XVI.
Jadi, Vatikan pun tidak bisa menerima pandangan semacam ini, yang menerima kebenaran semua agama. Vatikan bersikap tegas. Tentu saja, orang-orang liberal dalam Katolik juga protes dengan sikap itu. Sama halnya kaum liberal di kalangan Muslim, juga marah-marah terhadap fatwa MUI soal Pluralisme Agama. Untuk menegaskan kebenaran agama Katolik, pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II membuat pernyataan: The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete. (Ajaran Jesus Kristus adalah sudah tetap dan komplit).
Setiap pemeluk agama pasti memiliki posisi teologis yang berbeda-beda. Perbedaan itu harus dihormati. Kaum Pluralis Agama memang tidak jelas posisi teologisnya. Ia bukan Islam, bukan Kristen, bukan Hindu, atau Budha. Benar kata Dr. Stevri Lumintang, posisi teologisnya memang abu-abu. Karena itulah, Dr. Stevri mencatat, dalam bukunya, Teologia Abu-abu, Pluralisme Agama, bahwa: ...Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru... (***)
Begitulah salah satu pernyataan tegas seorang pendukung paham Pluralisme Agama di Indonesia, seperti ia tulis dalam artikel di satu koran nasional. Pandangan semacam ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Klaim kebenaran agama bagi pemeluk masing-masing, dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Seolah-olah, kerukunan umat beragama harus dibangun di atas landasan teologi pluralis yang melarang setiap pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Maka, betapa tesengatnya pendukung Pluralisme Agama di Indonesia, ketika pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama dan menyatakan sesat sejumlah aliran keagamaan. Karena itu, bisa dipahami, jika dalam berbagai seminar dan kesempatan, MUI menjadi bahan caci-maki. Banyak yang kelabakan. Bahkan ada yang kalap. Sebuah Jurnal yang diterbitkan di sebuah kampus Islam di Semarang pada edisi 28 Th XIII/2005, memuat laporan utama berjudul Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan. Dalam jurnal ini, misalnya, diturunkan wawancara dengan seorang aktivis HAM dengan judul MUI bisa Dijerat KUHP Provokator. Ia membuat usulan untuk MUI: Jebloskan penjara saja dengan jeratan pasal 55 provokator, jelas hukumannya sampai 5 tahun.
Amerika Serikat juga sangat getal mengucurkan dana untuk penyebaran paham Pluralisme, sehingga banyak yang menyambut dengan gegap gempita. Dalam situsnya, (http://www.usembassyjakarta.org/bhs/Laporan/indonesia_Laporan_deplu-AS.html), ditulis: Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga-minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan.
Pluralisme Agama sebagaimana yang banyak ditulis oleh para penganut dan penyebarnya -- memang bukan sekedar konsep toleransi, saling menghormati antar pemeluk agama, tanpa mengganggu konsep-konsep khas dalam teologi masing-masing agama. Menafsirkan QS al-Baqarah:62, sebuah disertasi doktor Ilmu Tafsir di UIN Jakarta menulis: Jika diperhatikan secara seksama, jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti pernyataan eksplisit ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dengan keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan al-Quran.
Pandangan dan penafsiran semacam ini tentu saja sangat keliru dan sama sekali tidak berangkat dari posisi teologis Islam. Ribuan mufassir al-Quran yang mutabarah sejak dahulu kala tidak ada yang memahami ayat al-Quran tersebut seperti itu. Sebab, dengan logika sederhana pun kita bisa memahami, bahwa untuk dapat "beriman kepada Allah" dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; dapat mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Ini konsepsi teologis Islam.
Kaum Pluralis kadangkala memandang aspek keimanan ini sebagai hal yang kecil. Kata mereka, yang penting adalah nilai kemanusiaan. Manusia harus saling mengasihi, tanpa melihat agamanya apa; tanpa melihat jenis imannya. Tentu saja pandangan ini juga sangat keliru. Sebab, dalam kehidupan manusia pun, aspek pengakuan juga sangat penting. Anak menuntut pengakuan dari orang tuanya. Sebelum bekerja, Presiden juga perlu pengakuan dari rakyat bahwa dia adalah Presiden. Anak yang tidak mau mengakui orang tuanya disebut anak durhaka. Maka, pengakuan (syahadah) itulah yang diminta oleh Allah kepada umat manusia. Yakni, agar manusia mengakui bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; dan bahwa Muhammad saw adalah utusan-Nya yang terakhir. Apa beratnya manusia untuk mau membuat pengakuan semacam ini?
Ada yang bilang, bahwa soal iman kepada kenabian Muhammad saw itu adalah soal kecil saja; masalah yang tidak penting; jadi tidak usah dibesar-besarkan; yang penting adalah kehidupan yang harmonis dan hormat-menghormati antar sesama manusia. Coba tanyakan kepada kaum yang mengaku Pluralis itu, jika iman kepada Nabi Muhammad saw adalah soal kecil, mengapa banyak yang keberatan untuk mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi. Mengapa? Jika itu dianggap masalah kecil, mengapa hanya untuk soal yang kecil saja, mereka tidak mau iman? Jadi jelas, bagi kaum Muslim, ini bukan soal kecil.
Bukan hanya kaum Muslim yang memandang Pluralisme Agama sebagai ancaman serius. Tahun 2000, Vatikan juga mengeluarkan Dekrit Dominus Iesus yang menolak paham Pluralisme Agama. Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya, Dupuis menyatakan, bahwa kebenaran penuh (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan sebagaimana Kristen menuju kebenaran penuh tersebut. Semua agama disatukan dalam kerendahan hati karena kekurangan bersama dalam meraih kebenaran penuh tersebut.
Buku Toward a Christian theology of Religious Pluralism pada intinya menyatakan, bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Penganut agama lain juga akan mengalami keselamatan, tanpa melalui Yesus. Karena ajarannya itulah, pada Oktober 1988 ia mendapat notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman. Ia dinyatakan tidak bisa dipandang sebagai seorang teolog Katolik. Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger, yang kini menjadi Paus Benediktus XVI.
Jadi, Vatikan pun tidak bisa menerima pandangan semacam ini, yang menerima kebenaran semua agama. Vatikan bersikap tegas. Tentu saja, orang-orang liberal dalam Katolik juga protes dengan sikap itu. Sama halnya kaum liberal di kalangan Muslim, juga marah-marah terhadap fatwa MUI soal Pluralisme Agama. Untuk menegaskan kebenaran agama Katolik, pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II membuat pernyataan: The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete. (Ajaran Jesus Kristus adalah sudah tetap dan komplit).
Setiap pemeluk agama pasti memiliki posisi teologis yang berbeda-beda. Perbedaan itu harus dihormati. Kaum Pluralis Agama memang tidak jelas posisi teologisnya. Ia bukan Islam, bukan Kristen, bukan Hindu, atau Budha. Benar kata Dr. Stevri Lumintang, posisi teologisnya memang abu-abu. Karena itulah, Dr. Stevri mencatat, dalam bukunya, Teologia Abu-abu, Pluralisme Agama, bahwa: ...Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru... (***)
Selasa, 30 September 2014
Makalah Bahasa Indonesia
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk social dalam interaksinya
tidak terlepas dari kebersamaan dengan orang lain. Dalam proses interaksi
tersebut terjadilah yang namanya komunikasi untuk menyampaikan maksud dan
keinginan yang ada dalam hatinya, baik berupa pertanyaan, permintaan maupun
tanggapan. Manusia yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik maka dia akan
dikucilkan dari kehidupan social mereka. Disinilah bahasa sebagai alat
komunikasi berperan penting dalam mempertahankan hubungan social antara satu
dengan yang lainnya. Bahasa tidak hanya sebagai pengantar maksud dan keinginan
hati akan tetapi, lebih dari itu ia juga sebagai bahasa Nasional; bahasa persatuan,
bahasa pemersatu dan lain sebgainya.
Bertolak dari pemahaman kita tentang bahasa maka,
menjadi kekurangan tersendiri jika ia tidak diikuti dengan proses membaca.
Karena sejatinya membaca merupakan media pendukung tersampainya pesan yang
efektif. Bahasa yang benar jika diikuti dan menggunakan kaidah yang benar pula
yang dihasilkan dari proses membaca. Dari sinilah tampak dengan jelas kepada
kita bahwa membaca merupakan kunci utama dalam mengambil informasi-informasi
tekstual.
- Rumusan Masalah
1.
Apa Definisi Bahasa itu?
2.
Apa Saja Fungsi Bahasa Baku?
3.
Bangaimana Fungsi dan kedudukan
Bahasa Indonesia?
4.
Apakah Bahasa Indonesia sebagai
Bahasa Nasional?
5.
Apa Definisi Membaca?
6.
Bagaimana Cara Mengembangkan Minat
Baca?
7.
Apa Saja Cara Cerdas Untuk
Membaca?
8.
Bagaimana Kiat-Kiat Membaca Cepat?
- Tujuan Makalah
1.
untuk mengetahui definisi bahasa
2.
untuk mengetahui fungsi bahasa baku
3.
untuk mengetahui fungsi dan
kedudukan bahasa Indonesia
4.
untuk mengetahui kedudukan bahasa
Indonesia sebagai bahasa Nasional
5.
untuk mengetahui definisi membaca
6.
untuk mengetahui cara
mengembangkan minat baca
7.
untuk mengetahui cara cerdas
membaca
8.
untuk mengetahui kiat-kiat membaca
cepat
- Manfaat Makalah
1.
agar mahasiswa mengetahui definisi
bahasa
2.
mengetahui fungsi bahasa baku
3.
mengetahui fungsi dan kedudukan
bahasa Indonesia
4.
mengetahui kedudukan bahasa
Indonesia sebagai bahasa Nasional
5.
mengetahui definisi membaca
6.
mengetahui cara mengembangkan
minat baca
7.
mengetahui cara cerdas untuk
membaca
8.
mengetahui kiat-kita membaca cepat
BAB
II
KAJIAN
TEORI DAN PEMBAHASAN
- Pengertian Istilah-Istilah Bahasa Indonesia
1.
Definisi Bahasa
Para ilmuwan bahasa mendefinisikan bahasa dengan
banyak sekali dan dari definisi-definisi yang mereka kemukakan diantaranya
adalah sebagai berikut;
Menurut Ibnu Jini dalam Asror, 2004:5 disebutkan bahwa
bahasa adalah “bunyi yang digunakan oleh setiap bangsa atau kaum tertentu
untuk mengemukakan ide mereka”. Pengertian ini hampir sama dengan yang
ditulis oleh syaik Musthofa al-Ghilayini, beliau menyebutkan bahasa adalah “lafadz-lafadz
yang digunakan oleh suatu kaum untuk mengungkapkan maksud-maksud (keinginan)
mereka”.[1]
Sedangkan Kridalaksana dan Djoko Kencono mengatakan bahwa, “bahasa adalah
system lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh para anggota kelompok
social untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri.”[2]
Pada kamus Webster’s disebutkan bahwa bahasa adalah alat yang sistematis
untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda,
bunui-bunyi, gesture, atau tanda-tanda yang disepakati yang mengandung makna
yang dapat dipahami.
2.
Fungsi Bahasa Baku
Terlebih dahulu kami perlu kita ketahui fungsi bahasa.
Untuk mengetahui bahasa secara cermat marilah kita melihat beberapa pernyataan
yang dikemukakan oleh beberapa ilmuan. Wardhaugh (1972:3-8) bahwa bahasa
berfungsi sebagai alat komunikasi manusia, baik tertulis maupun lisan. Namun,
fungsi ini sudah mencakup lima
fungsi dasar yang menurut Kinneavy disebut expression,
information, exploration, persuasion, dan entertainment (Michel 1967:51).[3]
Selain fungsi dasar dan fungsi umum tersebut, bahasa
mempunyai sejumlah fungsi khusus. Halliday (1970) menawarkan penjabaran
pengguanaan bahasa secara fungsional. Menurutnya ada tujuh fungsi khusus bahasa yang tampak pada penggunaan bahasa sebagai alat
komunikasi, yaitu:
- fungsi instrumental: menggunakan bahasa untuk memperoleh sesuatu.
- fungsi regulatori: menggunakan bahasa untuk mengontrol perilaku orang lain.
- fungsi personal, yaitu fungsi bahasa yang tampak pada penggunaan bahasa untuk mengungkapkan perasaan dan ide. Hal ini sebgaimana juga dikatakan oleh Andre Martinet (tokoh Perancis) dalam bukunya ‘Elements de Linguistique Generale’ bahwa: bahasa adalah alat penghubung atau perantara dalam memindahkan atau mengungkapkan sesuatu melalui bunyi-bunyi ujaran. Fungsi ini sangat tampak jelas pada bahasa yang tinggi, seperti bahasa yang digunakan oleh seorang pengajar ketika menyampaikan atau menjelaskan pelajarannya kepada anak didiknya di dalam kelas.
- fungsi interaksional, yaitu fungsi bahasa yang melekat ketika digunakan untuk menciptakan interaksi dengan orang lain.
- fungsi heuristic: menggunakan bahasa untuk belajar dan menemukan makna.
- fungsi imajinatif: menggunakan bahasa untuk meciptakan dunia imajinasi. Seperti kisah, syair, pantun, drama dan sebagainya.
- fungsi representasional: menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi.
Fungsi bahasa tersebut lebih lanjut oleh Halliday
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) fungsi
interpersonal : untuk membentuk, mempertahankan dan memperjelas hubungan
diantara anggota masyarakat, (2) fungsi
ideasional: untuk menyampaikan informasi diantara anggota masyarakat, dan
(3) fungsi tekstual: untuk
menyediakan kerangka, pengorganisasian diskursus yang relevan dengan situasi.[4]
Ada empat fungsi yang dijalankan bahasa baku,
masing-masing fungsi pemersatu; fungsi penanda keperibadian; fungsi penambah
wibawa; dan fungsi sebagai kerangka acuan.
Fungsi pemersatu bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional terbukti dalam sejarah perkembangan bahasa kita. Bahasa Indonesia
mengikat kebhinekaan rumpun dan bahasa yang adab dengan mengatasi batas-batas
kedaerahan. Karena bahasa merupakan wahana dan pengungkap kebudayaan nasional
utama, maka fungsi dapat ditingkatkan lagi dengan mengintensifkan usaha
berlakunya bahasa baku
yang ada yang menjadi salah satu cirri manusia Indonesia modern.
Fungsi penanada yang dijalankan oleh bahasa yang baku
yang ada akan terlihat bila di dalam pergaulan dengan bahasa lain, orang
Indonesia membedakan dirinya karena penggunaan bahasa Indonesia. Kita ingin
menyatakan identitas kita lewat bahasa Indonesia . Kalau fungsi ini telah
dipraktekkan secara luas, maka bahasa Indonesia dapat dianggap melaksanakan
peranan yang penting sebagai bahasa nasional yang baku .
Fungsi ketiga bahasa Indonesia yang baku ialah yang
menduduki tempat yang tinggi pada skala tata nilai dalam masyarakat bahasa.
Gengsi yang melekat pada bahasa Indonesia yang baku karena diapakai oleh kalangan masyarakat
yang berpengaruh, menambah wibawa pada setiap orang yang dapat menguasi bahasa
dengan mahir.
Fungsi bahasa yang menyangkut kewibawaan yang tinggi
juga terlakasana kalau bahasa Indonesia dapat ditautkan dengan hasil teknologi
modern dan unsure kebudayaan yang baru. Kalau nama Inggris yang asing yang
diberikan kepada pranata (institution); lembaga bangunan indah; jalan raya yang
besar dan sebagainya, diganti dengan nama Indonesia , maka warga masyarakat
secara psikologis akan mengidentikkan bahasa Indonesia dengan masyarakat dan
kehidupan modern dan maju.
Fungsi keempat bahasa Indonesia yang baku sebagai
kerangka acuan (frame of refrence) tiada lain daripada adanya ukuran yang
disepakati secara umum tentang tapat tidaknya pamakaian bahasa dalam situasi
tertentu. Fungsi tersebut akan terpenuhi jika penggunaan suatu tolak diusahakan
diberbagai bidang seperti surat-surat remsi, bentuk surat keputusan dan
akta-akta; laporan; undangan; iklan dan pengumuman; serta sambutan, ceramah dan
pidato.(Anton Moeliono, “Budaya Jaya” no. IX, hal. 17, tahun 1976.)
3.
Fungsi dan kedudukan Bahasa
Indonesia
Salah satu masalah kebahasaan yang perumusan dan dasar
penggarapannya perlu dacakup oleh kebijaksanaan nasional dalam bidang
kebahasaan adalah fungsi dan kedudukan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia.
Yang dimaksud dengan fungsi bahasa dalam hubungan ini adalah nilai pemakaian
bahasa yang dirumuskan sebagai tugas pamakaian bahasa itu dalam kedudukan yang
diberikan kepadanya. Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa adalah status
relative bahasa sebagai system lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar
nilai social yang dihunungkan dengan bahasa yang bersangkutan.
Mengapa fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia perlu
dirumuskan? Mengapa masalah fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia perlu dicakup
kebijaksanaa bahasa Nasional dalam arti kebijaksanaan nasional mengenasi
kebahasaan? Jawaban atas kedua pertanyaan ini berhubungan erat dan isi-mengisi.
Perumusan fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena
perumusan itu meungkinkan kita mengadakan pembedaan fungsi dan kedudukan antara
bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain. Hal itu bukan saja merugikan bagi
perkembangan dan pembakuan bahasa Indonesia , tetapi juga dapat
menyebabkan terjadinya kekacauan di dalam cara berpikir pada anak-anak kita.
Salah satu akibat yang dapat ditimbulkan oleh kekaburan pembedaan fungsi dan
kedudukan itu adalah mengalirnya unsure-unsur bahasa pada dasarnya tidak
diperlukan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Demikianlah terjadinya
pembanjiran bahasa oleh unsure-unsur yang tidak diperlukan dari bahasa-bahasa
lain, terutama bahasa Inggris. Dengan mangalairnya unsure-unsur bahasa lain ke
dalam bahasa Indonesia itu pembakuan bahasa Indonesia menjadi jauh lebih rumit
daripada yang semestinya.(Amran Halim, Budaya Jaya, No. VI, Juni 1976, hal. 195-196)
4.
Bahasa Indonesia sebagai
Bahasa Nasional
Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah kedudukan
sebagai bahasa nasional. Kedudukan sebagai bahasa nasional dimiliki bahasa
Indonesia sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1982. kedudukan
ini dimungkan oleh kenyataan bahwa bahasa melayu, yang mendasari bahasa itu
telah dipakai sebagai lingua franca selama berabad-abad sebelumnya di
seluruh kawasan tanah air kita, dan bahwa di dalam masyarakat kita tidak
terjadi “persaingan bahasa”, yaitu persaingan di antara bahasa daerah yang baku
dengan bahasa daerah yang lain untuk mencakup kedudukan sebagai bahasa
nasional. Dengan demikian, pengumandangan bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional dalam Sumpah Pemuda 1982 itu tidak menimbukan kesukaran apa-apa.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa
Indonesia berfungsi sebagai :
a.
Lambang kebanggaan kebangsaan
b.
Lambang identitas nasional
c.
Alat yang memungkinkan penyatuan
berbagai bangsa dengan latar belakang social budaya dan bahasanya masing-masing
ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia ,
dan
d.
Alat perhubngan antar-daerah dan
antar-budaya
Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa
Indonesia mencerminkan nilai-nilai social budaya yang mendasari rasa kebangsaan
kita dengan melalui bahasa nasionalnya, bangsa Indonesia menyatakan harga diri
dan nilai-nilai budaya yang dijadikannya pegangan kehidupan. Atas dasar
kebanggan ini bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan, dan rasa
kebanggaan memakainya harus kita bina.
Sebagai lambang identitas nasional bahasa Indonesia
kita junjung di samping bendera dan Negara kita. Di dalam malaksanakan fungsi
ini bahasa Indonesia haruslah memiliki identitas sendiri pula, sehingga ia
serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat
memiliki identitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan
mengembangkannya sedemikian rupa, sehingga ia bersih dari unsure-unsur bahasa
lain, terutama bahasa asing, seperti bahasa inggris.
- Keterampilan Membaca
1.
Definisi membaca
Membaca, merupakan serangkaian kegiatan pikiran
seseorang yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memahami suatu keterangan
yang disajikan kepada indra penglihatan dalam bentuk lambang huruf dan tanda
lainnya.[5]
Nuttal Christine menyatakan bahwa membaca dapat
dipandang sebagai proses komunikasi, yaitu komunikasi antarpenulis (sender
‘pengirim pesan’ atau pengirim informasi’) kepada pembaca (receiver,
‘penerima pesan’) melalui sebuah teks pesan atau informasi yang ada di benak
penulis, disusun dalam bentuk kode-kode. Proses ini disebut encode.
Pembaca akan mengurai kembali kode-kode tersebut agar informasi itu dapat
diterima dan dipahami sesuai dengan pesan atau informasi yang dikirim oleh
penulis lewat bacaan. Proses ini sering disebut decode.
Membaca merupakan proses komunikasi. Membaca dapat
juga dikatakan sebagai suatu kerja yang aktif dan interaktif. Dikatakan aktif
karena pembaca akan secara aktif mencari informasi baik yang tersirat maupun
yang tersurat dalam teks, sedangkan yang dimaksud dengan interaktif adalah
timbulnya proses informasi antara penulis dan pembaca. Pembaca akan menangkap,
memahami ide atau pesan penulis yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Membaca yang dianggap sebagai proses memahami makna,
tentunya akan menjadikan seseorang terus berpikir untuk memahami makna yang
terkandung dalam tulisan. Semakin banyak seseorang membaca, semakin tertantang
seseorang unuk terus berpikir terhadap apa yang telah mereka baca. Benarlah apa
yang dikatakan Wallace
dan Temple
yang menyatakan bahwa membaca dapat menimbulkan seseorang merasa tertantang
untuk berpikir.
Dikatakan lebih lanjut, meskipun membaca sangat
terkait dengan berbicara, tetapi belum tentu semua orang yang berbicara
berkesempatan untuk membaca. Untuk itu, diperlukan strategi tersendiri dalam
membaca, agar proses membaca dapat lebih baik sebagaimana yang diharapkan. Hal
inilah yang dimaksud oleh Wallace
dan Temple
bahwa dalam membaca diperlukan strategi yang kompleks.
2.
Mengembangkan Minat Baca
Factor-faktor yang dapat mempengaruhi minat baca dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu personal (individu) dan yang bersifat
instutisional. Factor-faktor personal antara lain: intelegensia, usia, jenis
kelamin, kemampuan membaca, sikap, dan kebutuhan psikologis. Adapun yang
bersifat institusional meliputi tersedianya bahan bacaan yang sesuai, latar
belakang status social ekonomi dan kelompok etnis, pengaruh teman sebaya, orang
tua, televise serta film.[6]
Menurut Poul, strategi pengembangan minat baca
mencakup tiga dimensi. Dimensi tersebut meliputi edukatif pedagogik, dimensi
sosiokultural, dan dimensi psikologik. Dari ketiga dimensi tersebut dapat kami
jelaskan sebagai berikut :
a.
Dimensi Edukatif Pedagogik
Strategi pengembangan dari
dimensi ini antara lain dengan:
1)
Perlu diajarkan dan dilatih metode
dan teknik-teknik membaca yang tepat. Sebagai motivator dari langkah ini adalah
guru bahasa.
2)
Perlu diprogramkan tugas membaca
disertai keharusan membuat laporan, baik bidang studi, bacaan wajib per-mata
pelajaran, bacaan bebas memilih, maupun bacaan yang hanya untuk kesenangan.
Sebagai motivator dalam langkah ini adalah guru dari masing-masing bidang
studi.
3)
Interaksi kelas perlu diselingi
dengan membaca tanpa bersuara tentang bahan pelajaran yang sedang dibahas. Guru
jangan memborong seluruh alokasi waktu dengan penjelasan-penjelasan lisan
searah. Sebagai motivator dalam hal ini adalah guru bidang studi.
4)
Perlu dijadwalkan program membaca
wajib yang bersifat ekstrakurikuler. Sebagai motivator adalah kepala sekolah.
5)
Perlu diprogramkan lomba karangan
antarsiswa sebagai wahana pembentuk kebiasaan dan minat baca. Siswa membaca
agar dapat menulis dengan baik. Sebagai motivator dari langkah ini adalah
Depdikbud atau kepala sekolah.
b.
Dimensi Sosiokultural
Strategi pengembangan dari dimensi ini antara lain
:
1)
Para
orang tua, guru, dan pembimbing perlu membentuk kebiasaan membaca pada dirinya
terlebih dahulu sehingga siswa atau anak dapat mengikuti kebiasaan atau
kegemaran tersebut. Ini berarti keluarga menjadi pengembang dari minat baca
pada anak. Sebagai motivator dari langkah ini adalah guru, orang tua atau
pembimbing. Adanya perpustakaan keluarga akan semakin berdampak positif
terhadap timbulnya membaca ini.
2)
Dibentuk kelompok baca berdasarkan
minatnya. Sebagai motivator dari dimensi ini kepala sekolah, OSIS atau karang
taruna.
c.
Dimensi Pskologik
Strategi pengembangan dari dimensi ini antara lain
dengan:
1)
Perlu disediakan buku dan bahan
bacaan yang selaras dengan kebutuhan serta tingkat anak dalam jumlah yang besar
dan mutu yang tinggi. Sebagai motivator dalam langkah ini adalah pimpinan
perpustakaan, kepala sekolah, dan orang tua.
2)
Perlu digalakkan penulisan buku
dan bahan bacaan, penerjemahan atau pengemporan buku yang mampu merangsang
fungsi pengamatan dan penalaran anak. Sebagai motivator dalam langkah ini
adalah penulis buku, penerbit buku, pusat perbukuan, dan lain-lain.
3.
Cara Cerdas Membaca
Membaca merupakan sebuah keahlian dan seni yang tak
semua orang menguasainya. Banyak orang yang menghabiskan waktu yang sangat
panjang dalam membaca, namun hasil dan manfaatnya sedikit sekali.
Berikut ini adalah beberapa kiat untuk siapa saja yang
ingin menjadi pembaca yang baik dan cerdas serta dapat mengambil manfaat.
Beberapa kiat menjadi pembaca tersebut adalah:
a.
Berusahalah memahami kata demi
kata dari bahan bacaan. Kemudian, kaitkanlah antara kata yang satu dengan yang
lainnya. Dengan demikian keahlian membaca akan semakin baik dan meningkat.
b.
Konsentrasikan pikiran terhadap
bahan bacaan. Di samping itu, pergunakan kedua mata anda sesuai kadar kemampuan
akal untuk menguasai topic atau ide pokok yang terkandung dalam beberapa baris
kalimat suatu buku.
c.
Pilihlah tempat yang tepat,
suasana yang menyenangkan, dan sinar cahaya yang sesuai dengan mata.
d.
Membaca dengan suara keras dapat
menghalangi seseorang dalam membaca.
Karena itu, sangat baik bagi orang yang kemampuan bacanya masih lemah agar
tidak membaca dengan bersuara. Tapi, sebaiknya hanya dengan gerakan mulut,
melafalkan kata demi kata dengan tenang melalui tenggorokan, atau hanya
menggambarkannya dalam akal saja.
e.
Buatlah catatan penting di pinggir
atau catatan kaki yang bisa memberikan keterangan tambahan dari bahan bacaan.
f.
Selesai membaca, ajukanlah
pertanyaan pada diri sendiri, lalu berikanlah penjelasan secara ringkas.
g.
Bukalah setiap lembar buku
tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Kemudian tanyakanlah
pada diri anda, mengapa saya membaca buku ini serta apa manfaatnya?
4.
Bagaimana Membaca Cepat
Sekarang kita ini hidup pada era yang instant, sepat,
dan teknologi maju. Tolak ukur keahlian dan potensi diri seseorang sangat
bergantung pada kemampuan membaca yang cepat dan efektif.
Karenaj itu, membaca cepat tidak bertentangan dengan
penguasaan materi yang dibaca seperti yang sudah sangat popular di
tengah-tengah kita. Seorang pembaca biasa akan menghabiskan waktu yang cukup
lama hanya karena cara bacanya yang masih lambat.
Padahal, sebenarnya hal itu tidak diperlukan. Seorang
pelajar menengah atau mahasiswa bisa mempercepat presentase bacanya sehingga
20% hingga 25%, dan itu tidak memengaruhi kemampuannya dalam memahami bacaan.
Di sisi lain membaca cepat memang telah menjadi
tuntutan hidup sekarang, serta hal tersebut akan memberikan cukup banyak waktu
yang tersisa untuk kita. Berikut ini kami sajikan kiat-kiat membaca cepat:
a.
Paksa diri membaca dengan cepat.
Berkenaan dengan masalah ini, berusahalah dengan keras. Sejak hari ini,
mulailah memaksakan diri untuk membaca dengan cepat. Bacalah sebuah topic dua
atau tiga kali dengan cepat, guna memperoleh topic utama. Selanjutnya bacalah
dengan serius untuk mengetahui rinciannya.
b.
Bacalah ungkapan dan
kalimat-kalimat yang ada dalam buku,
jangan membaca kata-katanya.
c.
Bacalah dengan melompat-lompat dan
berilah tanda khusus pada topic yang penting.
d.
Lepaskan dirimu dari hiruk pikuk,
keributan, atau hal-hal lain yang bisa membuyarkan konsentrasi.
e.
Konsentrasi penuh dan berinteraksi
dengan khayalan dalam ide dan topi yang disajikan dalam buku.
f.
Duduklah dengan benar dan rileks,
tetapi tidak berarti terlalu santai.
g.
Memilih waktu yang sesuai dengan
jenis bacaan yang akan dibaca.
BAB
III
PENUTUP
- Kesimpulan
Merujuk pada isi pembahasan, makalah ini dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1.
Bahasa adalah alat yang sistematis
untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda,
bunui-bunyi, gesture, atau tanda-tanda yang disepakati yang mengandung makna
yang dapat dipahami.
2.
Membaca, merupakan serangkaian
kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memahami
suatu keterangan yang disajikan kepada indra penglihatan dalam bentuk lambang
huruf dan tanda lainnya
- Saran
Mahasiswa sebagai tonggak penerus estafet keilmuan
seharusnya memiliki kemampuan lebih dari keterampilan membaca. Sebagai civitas
akademik ia juga dituntut untuk mahir dalam mengembangkan minat bacanya, sehingga
pada akhirnya ia tidak menjadi manusia terbelakang.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Ghilani, Musthofa. 2007. Jami’u al-durus al-arobiyah.Bairut
: Dar al-Fikr..
Kridalaksana,
Harimurti. 1993. Kamus Linguistik.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Haris, A.J. dan
Sipay,E.R. 1980.How to Increase Rading Ability.New York:Longman.
Gie, The Liang. 1988.Cara
Belajar yang Baik Bagi Mahasiswa. Yogyakarta :PUBIB.
[1]
Al-Ghilani, Musthofa.. Jami’u al-durus al-arobiyah.Bairut : Dar al-Fikr.
2007. Hal 7.
[2]
Kridalaksana, Harimurti.. Kamus Linguistik.Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama. 1993. Hal 21.
[3]
Chaer, Abdul. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.JAKARTA; PT. IKAPI CIPTA.
2004, hal14-15.
[4]
ibid
[5]
Gie, The Liang.Cara Belajar yang Baik Bagi Mahasiswa. Yogyakarta :PUBIB.1988.
hal11.
[6]
Haris, A.J. dan Sipay,E.R. How to Increase Rading Ability.New
York:Longman.1980. hal 519 dan 521.










